Anak perempuanku waktu itu umurnya dua setengah tahun. Dia baru mulai bisa bicara dengan lancar, sudah bisa menyusun kalimat. Nah, suatu malam aku lagi duduk di dapur, dia main di kamar. Terdengar dia ngobrol sama seseorang. Ya biasa, anak kecil kan suka ngomong sendiri, ngobrol sama boneka — wajar.
Tapi lama-lama aku perhatikan — dia jelas-jelas sedang menjawab seseorang. Ada jeda-jedanya. Dia ketawa-ketawa. Kayak lagi berdialog beneran.
Aku masuk ke kamar — nggak ada siapa-siapa. Dia duduk di pojok dekat jendela, matanya tertuju ke arah kursi. Kursinya kosong.
Aku tanya, "Kamu tadi ngobrol sama siapa?" Dia jawab, "Sama kakek." Aku bilang, "Kakek yang mana?" Kedua kakeknya masih hidup, dia kenal, dan biasa memanggil mereka dengan nama. Dia angkat bahu dan bilang, "Yang duduk di situ." Sambil nunjuk ke kursi.
Aku bilang, "Di situ nggak ada siapa-siapa." Dia menatapku seolah aku ini aneh, terus lanjut main lagi. Kalau cuma sekali, mungkin aku sudah lupa. Namanya juga anak kecil, suka ngomong macam-macam.
Tapi kemudian ini terulang. Beberapa kali dalam seminggu. Selalu di tempat yang sama, selalu di dekat kursi itu. Suatu hari aku bertanya, "Memangnya kakek itu kayak gimana?" Dia jawab, "Tua. Pakai baju garis-garis." Terus dia nunjuk pergelangan tangannya sendiri dan bilang, "Di sini ada gambar."
Aku hampir jatuh.
Kakek buyutku meninggal delapan tahun sebelum dia lahir. Aku sendiri nggak begitu ingat beliau — waktu itu aku baru umur enam tahun. Tapi aku ingat jelas, di pergelangan tangannya ada tato. Jangkar atau semacamnya — waktu kecil aku nggak begitu paham gambar apa persisnya. Dan beliau sering pakai kemeja garis-garis — itu aku ingat betul, beliau punya beberapa potong.
Foto beliau nggak ada di rumah kami. Aku dan suami sudah pindah ke kota lain, sebagian besar foto keluarga ada di rumah orangtuaku. Anakku nggak mungkin pernah melihatnya.
Aku telepon ibuku. Aku ceritakan apa yang dibilang anakku. Ibu diam sebentar, lalu bilang, "Iya, benar. Papa memang punya tato jangkar di pergelangan tangan. Dia bikin sendiri waktu masih muda."
Lalu semua itu berhenti begitu saja. Di suatu titik, anakku berhenti ngobrol dengan kursi itu. Aku tanya, "Kakeknya mana?" Dia jawab, "Sudah pergi." Dan selesai. Nggak pernah lagi setelah itu.
Sekarang dia sudah tujuh tahun. Dia nggak ingat apa-apa. Bilangnya nggak ingat ada kakek-kakek di dekat kursi.